Sabtu, 23 November 2013

Sedekah Bumi


Masyarakat pantai utara Cirebon, yang terkenal dengan udang dan petisnya, bermata pencaharian utama bertani dan melaut sejak zaman dulu sudah berkembang. Dalam usaha bertani dan melaut pada zaman sebelum Islam, mereka terikat keparcayaan agama nenek moyang. Pada masa itu masyarakat percaya kepada dewa penguasa bumi, dewa penguasa laut, dan sebagainya. Mereka menganggap para dewa itu sebagai sesembahan. Keyakinan atas adanya dewa tersebut ditunjukkan dengan penyiapan sesaji di tempat-tempat yang mereka percaya. Dengan begitu mereka berharap terhindar dari malapetaka alam yang murka dan mendapatkan kemudahan mencapai hasil-hasil usahanya.

Ketika Islam masuk, tradisi itu sangat mendapatkan perhatian. Kepercayaan akan dewa-dewa digantikan dengan iman kepada Tuhan. Menurut Islam, hanya Allah yang patut disembah. Sesembahan kepada dewa pada masa pra-Islam tidak dibuang sama sekali caranya, tetapi diubah substansinya. Dalam usaha-usaha mengalihkan keparcayaan itulah terbentuk upacara baru, sedekah bumi. Upacara baru ini pertama kali dilaksanakan pada pemerintahan Kanjeng Susuhan Syekh Syarif Hidayatullah (1482–1568 M), tempatnya di Puser Bumi.
Puser Bumi adalah sebutan untuk pusat kegiatan atau pusat pemerintahan Wali Sanga. Mengenai kedudukan Puser Bumi, ada penjelasan bahwa setelah Sunan Ampel wafat pada 1478 M, dipindahkan dari Ampel (Jawa Timur) ke Cirebon yang letaknya di Gunung Sembung—sekarang disebut Astana Gunung Jati.
De nika susuhan jati, hana ta sira maka purohitaning sakwehnya Dang Accaryagameslam rat jawa kulwam, mwang para wali ing jawa dwipa, muwah ta sira susuhan jati rajarsi. Susuhan jati adalah pimpinan para guru agama islam di Jawa Barat dan pimpinan para wali di Pulau Jawa, beliau adalah raja resi (PNK oleh P. Wangsakerta 1677 M sarga IV halaman 2). Upacara adat sedekah bumi dilaksanakan pada cawu ke 4 (bulan oktober) setiap tahunnya.
Tradisi ini dilaksanakan hampir di seluruh desa-desa di Cirebon, misalnya yang masih kuat melaksanakan tradisi ini adalah Desa Astana Gunung Jati yang termasuk kedalam kecamatan Gunung Jati sekarang. Sebagai pelaksananya adalah Ki Penghulu serta Ki Jeneng Astana Gunung Jati berikut para kraman. Pelaksana adat juga didukung oleh para pemuka masyarakat dan tokoh agama di desa-desa yang berkaitan dengan Keraton Cirebon, mereka disebut Prenata. Pelaksanaannya dimulai dengan Buka Balong dalem yaitu mengambil ikan dari balong milik keraton di beberapa daerah (masih ada di desa Pegagan) oleh Ki Penghulu bersama Ki Jeneng atas restu Sinuhun. Selanjutnya Ki Penghulu bersama Ki Jeneng Ngaturi Pasamon (mengadakan pertemuan) para Prenata dan para pemuka adat lainnya, dalam Pasamon ditetapkan hari pelaksanaan sedekah bumi.
Maka sejak ditetapkannya hari pelaksanaan itu, disebarkanlah secara getok tular kepada seluruh penduduk bahwa akan diadakan Sedekah Bumi, melalui para pemuka adat penduduk mengirimkan “Gelondong Pengareng-areng”. Gelondong Pengareng-areng adalah penyerahan secara sukarela, sebagai rasa syukur atas keberhasilan yang telah diusahakannya. Biasanya berupa hasil bumi seperti Sura Kapendem (hasil tanaman yang terpendam di tanah seperti ubi kayu, kembili, kentang, dsb). Sura gumantung, yaitu hasil tanaman di atas tanah seperti buah-buahan, sayur mayur, dsb. Hasil ternak seperti Ayam, Itik, Kambing, Kerbau, Sapi, dsb. Juga bagi mereka yang yang berusaha sebagai nelayan, mengirimkan hasil tangkapannya dari laut sebagai rasa syukur dan berbakti kepada kanjeng sinuhun. Penyerahan-penyerahan itu terjadi bukan karena paksaan atau peraturan tertentu, tetapi karena kesadaran penduduk itu sendiri dan kemudian dijadikan hukum adat yang aturan-aturan tidak tertulis.
Kaitannya dengan upacara Sedekah Bumi
Pelaksanaan yang merupakan tradisi masyarakat Cirebon ini sebenarnya merupakan Larungan dan Nadran yang kemudian disebut sedekah Bumi sangatlah begitu sakral dan memiliki nilai-nilai spiritualitas yang tersembunyi disela-sela acara ritual pelaksanaan pesta rakyat, sekaligus pembuktian adanya ajaran islam yang mengilhami pelaksanaanya. Termasuk dalam pakaian yang digunakannya, kuwu (kepala desa) menggunakan Iket (blangkon), baju takwa lurik dasar kuning, kain panjang, sumping kembang melati, memegang Teken (Tongkat paling tinggi ± 60 cm). Ibu Kuwu berbaju kurung, kain panjang, sumping melati, gulung kiyong, selendang jawana.
Upacara adat Sedekah Bumi ditandai dengan Srakalan, pembacaan kidung, pencungkilan tanah, kemudian diadakan arak-arakan yang diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat dengan segala bentuk pertunjukan yang berlangsung di Alun-alun Gunung Sembung, misalnya kesenian rentena, reog, genjring, terbang, brahi, berokan, barongan, angklung bungko, wayang, bahkan sekarang ini ado pertunjukan tarling modern organ tunggal. Dalam pertunjukan wayang kulit lakon yang dibawakan dalam acara sedekah Bumi ini adalah Bhumi Loka, kemudian pada dipagi harinya diadakan ruwatan. Dalam lakon Bhumi Loka diceritakan tentang dendam Arjuna atas kematian ayahnya yaitu prabhu Nirwata Kwaca. Terjadilah peperangan dengan putra Pandawa yang dipimpin Gatotkaca. Prabu Kresna dan Semar mengetahui putra Gatotkaca mendapat kesulitan untuk dapat mengalahkan mereka, bahwa para putra manik Iman-imantaka tidak dapat mati selama menyentuh bumi. Maka semar menasehatkan agar dibuatkan Anjang-anjang di angkasa, dan menyimpan mereka yang telah mati agar tidak dapat menenyentuh bumi. Prabu Kresna memerintahkan Gatotkaca untuk membuat Anjang-anjang tersebut di angkasa dan menyerang mereka dengan ajian Bramusti. Mereka semua akhirnya terbunuh oleh Gatotkaca , diatas Anjang-anjang yang telah dipersiapkannya. Bhumi Loka mati terbunuh kemudian menjadi Gludug lor dan Gludug kidul. Lokawati terbunuh menjadi Udan Grantang. Loka Kusuma terbunuh menjadi Kilap, loka sengara mati terbunuh menjadi Gledeg dan Lokaditya mati terbunuh menjadi Gelura. Habislah para putra Manik Imantaka terbunuh oleh Gatotkaca dan kematian mereka menjadi penyebab datangnya musim penghujan.
Dari mitos cerita di ataslah maka Sedekah Bumi dijadikan oleh kepercayaan masyarakat untuk menyambut datangnya musim penghujan.
Namun dasawarsa terakhir ini nampaknya makna dari Sedekah Bumi sudah bergeser dari makna awal. Selain menjadi upacara Ceremony rutinitas biasa sekarang Sedekah Bumi menjadi daya tarik pariwisata oleh pemerintah. Terbukti dari banyaknya pengunjung yang datang setiap diadakaanya Sedekah Bumi, yang maksud dan tujuannya pun berbeda pula. Namun, paling tidak tradisi ini masih tetap dipertahankan sampai sekarang. Menurut Plato tata masyarakat yang terbaik adalah masyarakat yang tidak mengalami perubahan terhadap pengaruh luar yang bisa merubahnya. Plato lebih mendambahkan konservasi dari pada perubahan.

ASAL-USUL REOG PONOROGO


Ada beberapa versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok. Di bawah ini adalah salah satunya.
Menurut cerita, kelahiran kesenian Reog dimulai pada tahun Saka 900, dilatarbelakangi kisah tentang perjalanan Prabu Kelana Sewandana, Raja Kerajaan Bantarangin yang sedang mencari calon permaisurinya. Bersama prajurit berkuda, dan patihnya yang setia, Bujangganong. Akhirnya gadis pujaan hatinya telah ditemukan, Dewi Sanggalangit, putri Kediri. Namun sang putri menetapkan syarat agar sang prabu menciptakan sebuah kesenian baru terlebih dahulu sebelum dia menerima cinta sang raja. Maka dari situlah terciptalah kesenian Reog. Bentuk Reog pun sebenarnya merupakan sebuah sindiran yang maknanya bahwa sang raja (kepala harimau) sudah disetir atau sangat dipengaruhi oleh permaisurinya (burung merak).
Biasanya satu group dalam pertunjukan Reog terdiri dari seorang Warok Tua, sejumlah warok muda, pembarong, penari Bujang Ganong, dan Prabu Kelono Suwandono. Jumlahnya berkisar antara 20 hingga 30-an orang, peran sentral berada pada tangan warok dan pembarongnya. Tulisan Reog sendiri asalnya dari Reyog, yang huruf - hurufnya mewakili sebuah huruf depan kata-kata dalam tembang macapat Pocung yang berbunyi : rasa kidung/ingwang sukma adiluhung/Yang Widhi/olah kridaning Gusti/gelar gulung kersaning Kang Maha Kuasa.
Penggantian Reyog menjadi Reog yang disebutkan untuk "kepentingan pembangunan" - saat itu sempat menimbulkan polemik. Bupati Ponorogo Markum Singodimejo yang mencetuskan nama Reog (Resik, Endah, Omber, Girang gemirang) tetap mempertahankannya sebagai slogan resmi Kabupaten Ponorogo.
Alur cerita pementasan Reog yaitu Warok, kemudian Jatilan, Bujangganong, Kelana Sewandana, barulah Barongan atau Dadak Merak di bagian akhir. Ketika salah satu unsur di atas sedang beraksi, unsur lain ikut bergerak atau menari meski tidak menonjol. Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-hari besar nasional. Seni Reog Ponorogo terdiri daribeberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada Reog tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang, yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping. Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu.

Setelah tarian pembukaan selesai, baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni Reog ditampilkan. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita pendekar. Adegan dalam seni Reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni Reog adalah memberikan kepuasan kepada penontonnya.

Adegan terakhir adalah singa barong, dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak. Berat topeng ini bisa mencapai 50-60 kg. Topeng yang berat ini dibawa oleh penarinya dengan gigi. Kemampuan untuk membawakan topeng ini selain diperoleh dengan latihan yang berat, juga dipercaya diproleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa.

Prosesi Sedekah Laut Cilacap


Setiap masyarakat di suatu tempat atau daerah tertentu pasti memiliki kebiasaan kebiasaan adat tertentu.  Terlebih di daerah daerah Indonesia, yang mana Negara Indonesia sendiri merupakan Negara kepulauan, tentunya ini berdampak lebih terhadap aktifitas kebudayaan. Distribusi kebudayaan dari asing, influence budaya asing terhadap budaya asli Indonesia, dan lain lain.
Kebudayaan kebudayaan asli suatu masyarakat tentunya telah terukir dengan sangat mendalam di setiap jiwa para anggota masyarakat tersebut, terlebih ketika suatu kelompok masyarakat tersebut memiliki akses yang kurang intens dan terbatas dengan dunia luar. Namun banyak pula yang kebudayaan kebudayaan asli suatu daerah tetap dipertahankan meski jaman telah berkembang secara pesat baik dalam bidang teknologi, intelektual individu, pola pikir, dan lain lain. Dan masyarakat menganggapnya sudah menjadi tradisi turun menurun. Salah satu contohnya adalah ritual Sedekah Laut atau ada beberapa yang menyebutnya larung sesaji ke laut. Di Cilacap Jawa Tengah contohnya. Acara atau prosesi tersebut dilaksanakan setiap bulan Muharam atau Sura pada hari Jumat Kliwon siang. Kegiatannya adalah menghanyutkan sesaji dan kepala kerbau ke laut untuk persembahan kepada Nayi Roro Kidul  yang mana  Nyai Roro Kidul diyakini masyarakat sekitar sebagai ratu penguasa pantai selatan. Segala penghidupan yang berasal dari laut mereka yakini atas campur tangan Nyai Roro Kidul. Oleh karena itu Nyai Roro Kidul sangat dihormati, persembahan persembahan sesaji itu diharap untuk mendapatkan ridho dan simpati dari Sang Ratu.
Beberapa hari sebelum prosesi dilakukan, biasanya pemerintah sudah memberikan wara wara dalam bentuk baliho atau sepanduk di jalan jalan kota Cilacap, sehubungan dengan waktu dan tempat diadakan, biasanya di pantai Teluk Penyu Cilacap. Pada satu hari sebelumnya, diadakan nyekar atau ziarah yang dilakukan oleh sesepuh atau pemimpin ritual di pulau Majethi dan dilanjutkan dengan pengambilan air suci di pulau tersebut, dimana pulau tersebut merupakan tempat tumbuhnya bunga Wijayakusuma. Malam harinya dilaksanakan tirakatan yang dilakukan oleh beberapa masyarakat dan sesepuh di pendopo kota dan dilanjutkan potong tumpeng, pembuatan sesaji, gunungan yang berbentuk rumah joglo, dan pernak pernik lainnya untuk prosesi larung sesaji besok harinya. Kesokan harinya sesaji, gunungan dan segala perlengakapan ritual lainnya dibawa menuju laut, dna kemudian dilarungkan atau dihanyutkan secara khidmat.
                Dari kegitan tersebut kita dapat mengamati, kegiatan tersebut dilakukan secara mendalam sebagai nilai nilai luhur yang sangat dijunjung tinggi oleh masyarkat. Kegiatan tersebut merupakan bentuk suatu akulturasi nilai nilai keislaman masyarakat dengan keyakinan animisme-dinamisme dan hindu-budha jaman dulu. Nilai keislaman terdapat pada bacaan bacaan yang dilantunkan, serta shalawat juga kerap kali dilalntunkan, nilai animism-dinamisme dan hindu-budha terdapat pada proses pemakaian sesaji sesaji.
Kegiatan tersebut merupakan prosesi sakral dan mengandung nilai nilai kewajiban bagi kalangan masyarakat. Bila tidak dilangsungkan maka akan mendapat feedback tertentu. Acara tersebut dimulai sekitar tahun 1817 ketika pemerintahan Adipati Cakrawerdaya III, beberapa tahun sempat diberhentikan namun kembali diadakan kembali ketika kepemimpinan Bupati Poedjono sekitar tahun 1982. Dan akhirnya sampai sekarangpun prosesi tersebut rutin diadakan setiap bulan Muharam atau Sura. Sebenarnya prosesi tersebut juga sedikit menimbulkan pro dan kontra, terlebih bagi mereka mereka yang religious. Mereka menganggap prosesi tersebut menjadi sesuatu yang berbau akan syirik, yaitu menduakan Tuhan. Namun para masyarakat yang setia pada prosesi tersebut hanya menganggapnya angina lalu. Sekitar tahun 2011 pernh ada kejadian kapal meledak ketika acara sedekah laut, sedikitnya 17 orang penumpang kapal yang bermaksud menyaksikan menjadi korban. Namun kejadian itu tidak membatalkan prosesi  Ssedekah Laut.
                Saya asli orang Cilacap, menurut saya pribadi, kegiatan atau prosesi tersebut sudah mendarah daging bagi masyrakat kota Cilacap yang bertempat tinggal di sekitar pantai khususnya. Kalau kita bicara tentang keberlangsungan, sampai kapan acara tersebut akan dapat dipertahankan, kita dapat melihat pada latar belakang individual masing masing masyarakatnya dan arus pola pikir masyarakatnya. Dilihat dari latar belakang, kebanyakan penganut prosesi tersebut adalah mereka yang bertempat tinggal di sekitaran pantai, dan sebagian besar masyarakat Cilacap memang bermata pencaharian sebagai nelayan. Dilihat secara pola pikir, masyarakat sekarang tentunya sudah berpikir lebih, intelek, dan kritis. Seperti Bupati Cilacap sendir Tatto S. Pamuji, 100 persen mendukung acara tersebut, tetapi beliau lebih menekankan pada sisi entertainment . Acara yang bersifat sacral dapat dinikmati oleh baik kalangan masyrakat Cilacap sendiri atau orang luar Cilacapa atau bahkan luar negeri menjadi suatu acara yang mengasyikan. Dan ini bias berarti menambah income sendiri bagi kota Cilacap. Selama acara tersebut tidak mengakibatkan suatu hal yang buruk saya kira sah sah saja, terlebih acara seperti ini dapat membuat nama Kota saya sendiri terkenal dengan karakteristik kebudayaannya tersebut.


Transportasi Umum Baik, Rakyat Tak Perlu Mobil


     Saya ingat saat Joko Widodo masih menjadi Wali Kota Solo dan aktif mengampanyekan mobil SMK, saya mention Twitter-nya @jokowi-do2 dan bilang kalau fokus kita sebaiknya jangan ke mobil SMK, tetapi kendaraan umum.
Saat itu Jokowi sempat menjawab dengan sengit, ”Biar industri otomotif kita dikuasai asing, ya?” Saya jelaskan bahwa mobil SMK justru akan membuat Jakarta semakin macet. Yang diperlukan Jakarta adalah kendaraan umum yang mengangkut banyak orang dan nyaman, seperti kereta api, monorel, dan MRT.
Saya bilang saat itu, sebaiknya SMK diarahkan untuk menciptakan kendaraan-kendaraan umum tersebut, jangan diarahkan untuk membuat mobil alias kendaraan pribadi. Syukurlah, sekarang, setelah menjadi Gubernur DKI, Jokowi mati-matian membela kendaraan umum dan bukan mobil murah. Inilah solusi terbaik bagi Indonesia. Kalau transportasi umum Indonesia baik dan berkualitas seperti negara-negara maju, rakyat tidak akan repot-repot membeli kendaraan pribadi, baik mobil atau motor, yang mahal. Dananya bisa digunakan untuk mendidik dan meningkatkan standar gizi anak-anak mereka.
Di beberapa negara maju, jarak tempuh dari satu lokasi ke lokasi lain bisa diprediksi dengan baik. Misalnya kita ada jadwal rapat pada pukul 14.00 di suatu kantor, kalau berangkat 15 menit sebelumnya menggunakan MRT, kita akan sampai di lokasi 5 menit sebelum rapat.
Hal ini hampir menjadi hal yang mustahil terjadi di Jakarta. Kita perlu setidaknya menyiapkan waktu 1 jam sebelumnya agar tidak terlambat menghadiri rapat tersebut. Pasalnya, kondisi kemacetan jalan sulit diprediksi, ditambah lagi tidak mudahnya mendapatkan lokasi parkir kendaraan.
Tanpa transportasi umum yang baik dan nyaman, biaya sia-sia yang dikeluarkan setiap orang menjadi sangatlah besar. Selain itu, sangat menghabiskan waktu kita dan membuat kita cepat letih dengan tingkat produktivitas yang menjadi sangat rendah.
Untuk mengatasi kemacetan dan sulitnya kendaraan umum, banyak dari kita terpaksa membeli motor. Selama ini motor dirasakan sangat menolong masyarakat mengatasi keterbatasan kendaraan umum serta gesit di tengah macet. Namun, apa yang terjadi saat ini ketika setiap orang mulai naik motor? Jalanan di Jakarta pun semakin macet, bahkan kini motor pun sulit berjalan.
Jika kini mobil dibuat murah, ini justru akan membuat kemacetan semakin runyam. Bisa-bisa jalanan di Jakarta akan penuh mobil dan motor, tetapi tidak bergerak sama sekali.
Kebijakan mobil murah ini adalah kebijakan yang bodoh, yang hanya menguntungkan produsen kendaraan, yang tahun lalu memecahkan rekor penjualan kendaraan mereka. Tanpa peduli dengan tingkat kemacetan yang semakin tinggi, tingkat kecelakaan juga semakin tinggi, tingkat polusi yang semakin tinggi, meningkatkan biaya yang tidak perlu, serta menurunkan kesejahteraan dan tingkat produktivitas.
Seandainya pejabat pengambil keputusan di negara kita memiliki visi yang jelas, prorakyat, dan memiliki ketahanan nasional yang baik di bidang ekonomi, termasuk transportasi, BBM, dan produktivitas yang baik, kebijakan-kebijakan bodoh seperti mobil murah ini tidak akan terjadi. Sebaliknya, pembangunan infrastruktur transportasi umumlah yang harus digencarkan .

Pengertian, Fungsi, Manfaat dan Jenis-Jenis Transportasi


 Menurut Utomo, transportasi adalah pemindahan barang dan manusia dari tempat asal ke tempat tujuan. Sedangkan menurut Sukarto, transportasi adalah perpindahandari suatu tempat ke tempat lain dengan menggunakan alat pengangkutan, baik yang digerakkan oleh tenaga manusia, hewan (kuda, sapi, kerbau), atau mesin. Konsep transportasi didasarkan pada adanya perjalanan (trip)antara asal (origin) dan tujuan (destination). 
     Di dalam transportasi, terdapat unsur-unsur yang terkait erat dalam berjalannya        konsep transportasi itu sendiri. Unsur-unsur tersebut adalah sebagai berikut:
·                     Manusia yang membutuhkan
·                     Barang yang dibutuhkan
·                     Kendaraan sebagai alat/sarana
·                     Jalan dan terminal sebagai prasarana transportasi
·                     Organisasi (pengelola transportasi) 
          Fungsi dan Manfaat Transportasi
      Menurut Utamo, transportasi memiliki fungsi dan manfaat yang terklasifikasi menjadi beberapa bagian penting. Transportasi memiliki fungsi yang terbagi menjadi dua yaitu melancarkan arus barang dan manusia dan menunjang perkembangan pembangunan (the promoting sector). Sedangkan manfaat transportasi menjadi tiga klasifikasi yaitu:
1.            Manfaat Ekonomi
Kegiatan ekonomi bertujuan memenuhi kebutuhan manusia dengan menciptakan manfaat. Transportasi adalah salah satu jenis kegiatan yang menyangkut peningkatan kebutuhan manusia dengan mengubah letak geografis barang dan orang sehingga akan menimbulkan adanya transaksi.
2.            Manfaat Sosial
Transportasi menyediakan berbagai kemudahan, diantaranya a) pelayanan untuk perorangan atau kelompok, b) pertukaran atau penyampaian informasi, c) Perjalanan untuk bersantai, d) Memendekkan jarak, e) Memencarkan penduduk.
3.            Manfaat Politis
Transportasi menciptakan persatuan, pelayanan lebih luas, keamanan negara, mengatasi bencana, dll.
4.            Manfaat Kewilayahan
Memenuhi kebutuhan penduduk di kota, desa, atau pedalaman. 
Jenis-Jenis Transportasi
Menurut Utomo pula, jenis-jenis transportasi terbagi menjadi tiga yaitu,
·                     Transportasi darat: kendaraan bermotor, kereta api, gerobak yang ditarik oleh hewan (kuda, sapi,kerbau), atau manusia. Moda transportasi darat dipilih berdasarkan faktor-faktor seperti jenis dan spesifikasi kendaraan, jarak perjalanan, tujuan perjalanan, ketersediaan moda, ukuran kota dan kerapatan permukiman, faktor sosial-ekonomi.
·                     Transportasi air (sungai, danau, laut): kapal,tongkang, perahu, rakit.
·                     Transportasi udara: pesawat terbang.
·                     Transportasi udara dapat menjangkau tempat – tempat yang tidak dapat ditempuh dengan moda darat atau laut, di samping mampu bergerak lebih cepat dan mempunyai lintasan yang lurus, serta praktis bebas hambatan.
Transportasi Publik
Menurut Sukarto, transportasi publik adalah seluruh alat transportasi di mana penumpang tidak bepergian menggunakan kendaraannya sendiri. Transportasi publik umumnya termasuk kereta dan bis, namun juga termasuk pelayanan maskapai penerbangan, feri, taxi, dan lain-lain.

Konsep transportasi publik sendiri tidak dapat dilepaskan dari konsep kendaraan umum. Pengertian kendaraan umum berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor. 35 Tahun 2003 Tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang di Jalan dengan kendaraan umum yaitu Kendaraan umum adalah setiap kendaraan bermotor yang disediakan untuk dipergunakan oleh umum dengan dipungut bayaran baik langsung maupun tidak langsung.

Safety Driving Sebelum Mengemudi, Cek Selalu Sebelum Melaju


JAKARTA – Kebanyakan pengemudi biasanya jarang memperhatikan hal-hal apa saja yang harus dilakukan sebelum mengendarai sebuah mobil. Misal yang sederhana saja seperti mengecek kondisi mobil dahulu secara simpel. Padahal hal-hal seperti ini bisa berpengaruh terhadap safety di jalan.
Kali ini teman-teman kita dari yang masih duduk di bangku SMA sudah kuliah sharing sedikit tips apa saja yang harus dilakukan sebelum kita berkendara, “Hal pertama yang harus dilakukan yaitu cek sekeliling mobil, perhatikan kendaraan dan pastikan layak jalan,” tutur Mory Yanuar, mahasiswa London School of Public Relation semester 1 ini.
Layak jalan itu seperti lampu berfungsi dengan baik. Apabila mati atau kekuatan sinar pada lampu, utamanya lampu depan sudah lemah sebaiknya ganti dengan yang baru.
Karena bila lampu redup saja, pandangan pengemudi pada jalan pasti akan berkurang dan dapat menyebabkan kecelakaan. “Jangan lupa pula cek lampu rem dan lampu mundur, cara mengeceknya bisa melalui pantulan kaca di rumah atau di kantor saat kita menginjak pedal rem dan memasukkan gigi mundur,” sambung Jusri Pulubuhu, instuktur safety driving dari JDDC (Jakarta Defensive Driving Consulting).
Lalu lihat kondisi ban, apakah tampak kurang angin? Lebih sip dicek menggunakan tyre gauge. Bila tekanan kurang, segera tambah angin ban sesuai rekomendasi pabrikan. Biasanya tertulis di buku panduan atau di balik pintu depan. “Bila tekanan angin sesuai bisa dipastikan pengendalian tetap normal ” tutur Jyoti Haznam pelajar kelas 3 SMA Pembangunan Jaya, Bintaro Jaksel ini.
Soalnya, tekanan angin pada ban berkurang atau tidak sama rata antara satu ban dengan yang lainnya, pengendalian akan terasa lebih sulit. Hal ini diamini oleh Jusri. “Mengemudi itu harus sigap dan harus sesuai dengan kondisi, baik itu kondisi kendaraan, fisik tubuh, kondisi jalan dan kondisi kecepatan pada mobil. Setelah semuanya dicek, lakukan pengendaraan mobil dengan santai, tidak terpancing emosi akibat pengendara lainnya dan ikuti peraturan rambu lalu lintas,” saran Jusri yang pernah mengambil studi di Amerika Ini. Jusri menambahkan dalam mengemudi hindari melakukan keputusan yang spontan, karena tindakan seperti itu rentan menyebabkan kecelakaan

Pengertian, Ruang Lingkup dan Fungsi Biro Perjalanan Umum


A. Pengertian Biro Perjalanan
Biro perjalanan adalah:Kegiatan usaha yang bersifat komersial yang mengatur, dan menyediakan pelayanan bagi seseorang,sekelompok orang, untuk melakukan perjalanan dengan tujuan utama berwisata.Biro perjalanan umum adalah:Badan usaha yang menyelenggarakan kegiatan perjalanan usaha di dalam dan ke luar negeri.Cabang biro perjalanan umum adalah:Salah satu unit Biro Perjalanan Umum, yang berkududukan sama dengan kantor pusatnya atau diwilayah lain, yang melakukan kegiatan sama dengan kantor pusatnya.Agen perjalanan adalah:Badan usaha yang menyelenggarakan usaha perjalanan yang bertindak sebagai perantara dalammenjual atau mengurus jasa untuk melakukan perjalanan.Perwakilan adalah:Biro perjalanan umum, agen perjalanan, badan usaha lainnya atau perorangan, yang di tunjuk olehsuatu biro perjalanan umum yang berkedudukan di wilayah lain untuk melakukan kegiatan yangdiwakilkan, baik secara tetap maupun sementara.Biro Perjalanan Wisata (BPW) dan Asosiasi Perjalanan Wisata (APW) berada dibawah naunganASITA (Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies).
B. Ruang lingkup Biro Perjalanan Umum
Ruang lingkupnya kegiatan usahanya adalah:1. Membuat, menjual dan menyelenggarakan paket wisata.2. Mengurus jasa angkutan perorangan atau kelompok yang di urusnya.3. Melayani pemesanan akomodasi, restaurant dan sarana wisata lainnya.4. Mengurus dokumen perjalanan5. Menyelenggarakan panduan perjalanan perjalanan wisata.6. Melayani penyelenggaraan konvensi.
C. Fungsi Biro Perjalanan Umum
Fungsi Biro Perjalanan Umum di bedakan dua fungsi yaitu:1. Fungsi UmumDalam hal ini biro perjalanan merupakan suatu badan usaha yang dapat memberikan penerangan atau informasi tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia perjalanan padaumumnya dan perjalanan wisata pada khususnya.2. Fungsi khusus:a. Biro perjalanan sebagai perantara. Dalam kegiatannya ia bertindak atas nama perusahaan laindan menjual jasa-jasa perusahaan yang diwakilinya. Karena itu ia bertindak di antara wisatawan danindustri wisata. b. Biro perjalanan sebagai badan usaha yang merencanakan dan menyelenggarakan tour dengantanggung jawab dan resikonya sendiri.c. Biro perjalanan sebagai pengorganisasi yaitu dalam menggiatkan usaha ia aktif menjalinkerjasama dengan perusahaan lain baik dalam dan luar negeri. Fasilitas yang dimiliki di manfaatkansebagai dagangannya.